P E M A N G K
A S A N
Oleh: Tri B. Santoso
1. Maksud dan Tujuan
Pekerjaan pemangkasan dimaksudkan
untuk mempertahankan kondisi bidang petik sehingga memudahkan dalam
pekerjaan pemetikan dan mendapatkan produktivitas tanaman yang tinggi.
Tujuan dari pekerjaan pemangkasan
adalah:
" Memelihara bidang petik tetap rendah untuk memudahkan pemetikan.
" Mendorong pertumbuhan tanaman teh agar tetap pada fase vegetatif.
" Membentuk bidang petik (frame) seluas mungkin.
" Merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru.
" Meminimalkan formasi pucuk burung.
" Membuang cabang-cabang yang tidak produktif.
" Mengatur fluktuasi produksi harian pada masa flush dan masa minus
(kemarau).
2. Prinsip-Prinsip Pangkasan
" Batang/cabang/ranting yang
telah dipotong tidak boleh pecah atau rusak.
" Luka pangkas pada batang/cabang/ranting harus rata membentuk
sudut 45 menghadap ke dalam perdu.
" Membuang ranting-ranting kecil dengan diameter kurang dari 1
cm (ukuran pensil).
" Membuang cabang yang membenggul.
" Membuang cabang-ranting yang lapuk.
" Membuang salah satu cabang/ranting yang menumpuk, bersilang atau
berdekatan dengan jarak kurang dari 5 cm.
" Bidang pangkasan harus sejajar dengan permukaan tanah.
3. Sistem dan Jenis Pangkasan
Sistem pangkasan adalah urutan ketinggian
pangkasan yang diterapkan dalam satu siklus pangkas dibandingkan dengan
siklus pangkas sebelumnya. Terdapat dua sistem pangkasan yang dikenal
saat ini, yaitu:
Sistem I : Sistem pangkasan yang
selalu naik - sistem ini setiap kali melakukan pemangkasan selalu menaikkan
bidang pangkasan (3-5 cm) lebih tinggi dari bidang pangkasan sebelumnya
sampai batas maksimal pada ketinggian 65-70 cm, kemudian turun kembali
pada ketinggian 50-55 cm.
Sistem II : Sistem pangkasan tetap
- sistem ini setiap kali melakukan pemangkasan berada pada ketinggian
yang relatif tetap sekitar 60-65 cm berulang-ulang setiap siklus pangkas.
Dengan pertimbangan kontinuitas
produksi dan harapan produktivitas yang lebih baik, sistem pangkasan
yang diterapkan di PTPN.VIII adalah Sistem I. Dengan sistem ini, cabang/ranting
yang tertinggal pada perdu relatif lebih muda dari pangkasan sebelumnya,
sehingga akan lebih cepat menumbuhkan tunas baru yang berarti lebih
cepat dilakukan jendangan.
Pengaturan ketinggian pangkasan
dengan sistem di atas adalah sebagai berikut:
Siklus I : 50 cm (turun benggul)
Siklus II : 55 cm
Siklus III : 60 cm
Siklus IV : 65 cm, dan kembali lagi ke ketinggian siklus I ( 50 cm)
Melihat kenyataan di lapangan di
mana komposisi ketinggian pangkasan terakhir seluruh blok tidak seimbang
(idealnya 25% areal mempunyai ketinggian yang sama), maka untuk mempertahankan
kestabilan produksi, maksimal blok yang turun benggul adalah 25% dari
areal yang dipangkas dalam satu tahun.
Dengan sistem pangkasan seperti
diuraikan di atas, jenis pangkasan yang dipakai adalah Pangkasan Bersih,
yaitu pangkasan dengan bidang pangkas yang rata, tetapi pada bagian
tengahnya agak rendah (ngamangkok), dengan membuang semua ranting-ranting
kecil yang berukuran diameter kurang dari 1 cm (sebesar pensil) untuk
memperbaiki percabangan.
Sedangkan Pangkasan Kepris (65-70
cm), yaitu pangkasan dengan bidang pangkas rata seperti meja, tanpa
melakukan pembersihan/pembuangan ranting, dilakukan terbatas hanya pada
tanaman yang kondisi kesehatannya kurang baik. Terhadap blok-blok kebun
yang kurang sehat tersebut perlu dilakukan upaya-upaya pemulihan kesehatan
tanamannya terlebih dahulu.
4. Daur Pangkas
Daur pangkas yaitu jangka waktu
antara pemangkasan terdahulu dengan pemangkasan berikutnya, yang dinyatakan
dalam tahun atau bulan. Lamanya daur pangkas dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain :
4.1. Ketinggian letak kebun dari
permukaan laut; makin tinggi letak kebun dari permukaan laut, makin
lambat kecepatan pertumbuhan tanaman teh dan sebaliknya.
4.2. Sistem petik; petikan keras
akan menyebabkan naiknya bidang petik lebih lambat sehingga daur pangkasnya
panjang, sedangkan petikan ringan akan menyebabkan naiknya bidang petik
lebih cepat sehingga daur pangkas lebih pendek.
4.3. Kesuburan tanah dan pengelolaan
tanaman; makin subur tanah dan makin baik pengelolaan suatu kebun, makin
cepat pertumbuhan tanaman yang berarti makin pendek daur pangkasannya,
bila dibandingkan dengan tanaman pada tanah yang kurang subur/kurang
pemeliharaannya.
4.4. Pemetikan yang sering kaboler
dan tidak "imeut" akan memperpendek daur pangkasan, ini berarti
produktivitas perdaur pangkasan turun.
4.5. Jenis tanaman; tanaman yang
berasal dari klon umumnya lebih cepat pertumbuhannya dibanding tanaman
teh asal seedling.
Dengan melihat beberapa faktor di
atas, maka penentuan kapan satu blok kebun harus dipangkas dilihat dari
:
" Produktivitas tanaman yang
sudah mulai menurun.
" Ketinggian bidang petik yang sudah tidak ergonomis bagi pemetik
(120-140 cm).
" Urutan dipangkas dikaitkan dengan sebaran pangkasan per bulan.
Sebagai prakiraan, daur pangkasan
berdasarkan ketinggian tempat adalah sebagai berikut :
Dataran Umur Pangkasan (Bulan)
Tinggi 48 - 52
Sedang 36 - 42
Rendah 30 - 36
5. Waktu dan Sebaran Pangkasan
Pertimbangan dalam waktu pangkasan
dan sebaran pangkasan per bulan dari rencana satu tahun ditentukan oleh:
" Sebaran target produksi per
bulan (bila memungkinkan juga dikaitkan dengan sebaran permintaan pasar
teh).
" Kondisi iklim mikro setempat (tanah dan lingkungan) yang masih
cukup lembab serta tidak terlalu terik, sehingga pangkasan dimungkinkan
dapat dilaksanakan sepanjang tahun.
" Kesehatan tanaman sehingga kecepatan penutupan (recovery) daun
lebih cepat.
Sebagai acuan, sebaran pangkasan
per semestar diatur sebagai berikut:
" Semester I : 60-70% dari rencana setahun.
" Semester II : 30-40% dari rencana setahun.
6. Persiapan Pemangkasan
Untuk menghindari adanya dampak
negatif (kekeringan, pertumbuhan lambat atau kematian) selama masa tanaman
tidak berfotosintesa, kondisi tanaman yang akan dipangkas harus dalam
keadaan sehat. Untuk itu, dua hingga satu bulan menjelang tanaman dipangkas
dilakukan pengecekan kesehatan tanaman dengan salah satu cara berikut:
6.1. Tes kadar pati; tujuannya untuk mengetahui berapa banyak cadangan
pati (karbohidrat) dalam perakaran tanaman dalam kaitannya dengan ketahanan
tanaman terhadap masa tanpa proses fotosintesa serta kecepatan dalam
penutupan daun pada bidang petik setelah pemangkasan.
Caranya: Dari areal yang dipangkas diambil sampel 10 pohon/Ha secara
acak, gali tanah sekitar perakaran sedalam 20 cm, lalu ambil sepotong
akar sebesar pensil dengan panjang 5 cm. Kumpulkan semua potongan akar
dari seluruh pohon sampel dan celupkan pada larutan yodium 12,5%.
Hasil tes: Warna potongan akar biru tua menunjukkan cadangan pati yang
mencukupi dan tanaman sehat. Warna potongan akar kekuning-kuningan menunjukkan
cadangan pati yang rendah dan tanaman kurang sehat.
Tindak lanjut: Jika terdapat lebih dari 40% sampel menunjukkan cadangan
pati yang rendah, maka tanaman disarankan diistirahatkan tidak dipetik
selama 1-2 bulan yaitu dari mulai setelah tes hingga jadwal pemangkasan
(jika masih memungkinkan pada saat pemangkasan masih dapat dilakukan
pemetikan gendesan). Jika kurang dari 40% sampel menunjukkan cadangan
pati yang rendah, pemangkasan dapat dilaksanakan sesuai dengan jadwal,
tanpa pengistirahatan
6.2. Tes kadar air; tujuannya adalah untuk mengetahui kadar air dalam
cabang tanaman di mana kadar air yang cukup akan memudahkan translokasi
zat pati dari akar ke arah luka pangkasan untuk menyembuhkannya sekaligus
menumbuhkan tunas baru. Kurangnya kadar air dalam cabang tanaman akan
menunjukkan kesehatan tanaman yang kurang baik dan akan memperlambat
pertumbuhan tunas setelah pemangkasan.
Caranya: Dari areal yang dipangkas diambil beberapa sampel pohon secara
acak, pangkas satu dahan/cabang pada ketinggian pangkasan, beberapa
saat setelah dipangkas perhatikan kelembaban pada luka pangkasannya.
Hasil tes: Jika pada luka pangkasan terlihat lembab dan berair, menunjukkan
kadar air tanaman mencukupi dan tanaman cukup sehat. Sebaliknya jika
pada luka pangksan terlihat kering, menunjukkan kadar air yang kurang
mencukupi dan mengindikasikan tanaman kurang sehat.
Tindak lanjut: Jika lebih dari 50% tanaman sampel yang dipangkas menunjukkan
kadar air yang kurang, disarankan tanaman diistirahatkan tidak dipetik
selama 1-2 bulan dari mulai setelah tes hingga akan dipangkas sesuai
jadwal.
7. Waktu Penyembuhan dari Pemangkasan
Secara umum setelah dipangkas +
30 hari mulai terjadi bintil-bintil calon tunas dan setelah 70 hari
s/d 100 hari pertumbuhan pucuk sudah siap untuk dilakukan tipping/jendangan.
Tetapi periode waktu tersebut berlangsung tergantung ketinggian pangkasan,
jenis klon, waktu pemangkasan, ketinggian tempat dari permukaan laut
, umur tanaman dan kondisi/kesehatan tanaman.
8. Cara Pemangkasan
Cara pemangkasan dan tingkat kemahiran
pemangkas sangat menentukan keberhasilan suatu pemangkasan selain faktor
lainnya. Sebelum pangkasan dimulai, terlebih dahulu harus dibuat contoh
pangkasan (indung pangkasan) yang dihadiri oleh Sinder Kepala atau Sinder.
Secara garis besarnya urutan pelaksanaan
cara pemangkasan adalah sebagai berikut:
8.1. Pangkasan dengan Manual
" Memotong cabang/ranting pada
ketinggian yang dikehendaki.
" Luka pangkas pada batang/cabang/ranting diupayakan rata membentuk
sudut 45° menghadap ke dalam perdu.
" Batang/cabang/ranting yang telah dipotong tidak boleh pecah atau
rusak, oleh karena itu gaet atau gergaji harus tajam.
" Memotong cabang/ranting yang besarnya lebih kecil dari ibu jari
(< 2 cm) menggunakan gaet pangkas, sedangkan yang lebih besar dari
ibu jari (> 2 cm) mempergunakan gergaji pangkas.
" Membuang cabang/ranting kecil yang berukuran diameter kurang
dari 1 cm (ukuran pensil).
" Bidang pangkasan harus sejajar dengan permukaan tanah.
" Untuk membentuk luka pangkas menghadap kedalam perdu, pemangkasan
dilakukan dari kedua sisi perdu sesuai dengan barisan tanaman.
8.2. Pangkasan dengan Mesin
(Pangkasan dengan mesin dilaksanakan
hanya dalam kondisi khusus, misalnya karena alasan kekurangan tenaga
kerja pemangkasan)
" Memotong cabang (I) sedalam 15-25 cm dari bidang petik.
" Memotong cabang (II) sedalam > 25 cm sampai pada ketinggian
yang diinginkan.
" Arah pemangkasan dilakukan sejajar dengan pohon yang dipangkas,
dari arah kanan ke kiri sesuai dengan arah putaran mesin.
" Untuk mengefektifkan jam kerja mesin, setiap satu jam kerja mesin
diistirahatkan selama satu menit.
" Untuk membersihkan cabang/ranting kecil dilakukan secara manual
dengan gaet.
9. Kondisi Khusus
Pada prinsipnya pangkasan dilaksanakan
dengan sistem selalu naik, pangkasan bersih dan pada kondisi tanaman
sehat serta kondisi iklim masih cukup lembab. Namun dalam kondisi khusus
di mana tanaman yang ada umumnya kurang sehat serta pengaturan waktu
pangkas menghendaki pemangkasan menjelang musim kemarau, khususnya untuk
daerah dataran rendah, untuk mempertahankan kestabilan produksi dapat
dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:
" Dilakukan pangkasan jambul.
" Dua bulan sebelum dipangkas tidak dilakukan pemetikan
" Pemangkasan dilakukan relatif lebih ringan/lebih tinggi (>
60 cm).
" Tidak melakukan pangkasan bersih, tetapi dengan pangkas kepris.
Secara bertahap kondisi khusus ini
dikurangi dengan mengkondisikan tanaman selalu dalam kondisi sehat melalui
upaya-upaya jangka panjang dan terencana, antara lain melalui kegiatan
konservasi tanah dan air.
10. Paket Pangkasan
Pekerjaan pangkasan yang dilaksanakan
setiap satu siklus (2,5-4,5 tahun) merupakan kesempatan untuk sekaligus
mengerjakan program pemulihan dan perbaikan kondisi tanaman serta struktur
tanah. Pekerjaan-pekerjaan yang mendahului atau mengikuti pekerjaan
pangkasan ini disebut Paket Pangkasan.
Secara lengkapnya pekerjaan paket
pangkasan meliputi:
" Penyiangan pra-pangkas
" Gosok lukut/kadaka/pakis
" Perlakuan cabang/ranting pangkasan
" Pembuatan rorak
" Penggarpuan
" Pembuatan saluran air kontur dan vertikal
" Penanaman/pemeliharaan pohon pelindung
" Pemeliharaan jalan kontrol dan sisian
" Pemupukan organik
10.1. Penyiangan Pra-pangkas
Blok kebun yang akan dipangkas kondisi
gulmanya harus cukup terkendali, baik terhadap rumput-rumputan, gulma
daun lebar maupun kekayuan. Untuk itu sebelum pemangkasan dilakukan
terlebih dahulu penyiangan dengan manual (jika kondisi gulma masih memungkinkan
dapat juga dilakukan dengan penyiangan kimia).
10.2. Gosok Lumut/Pakis/Kadaka
Pada cabang-cabang perdu teh, khususnya
pada tanaman seedling, umumnya tumbuh lumut, pakis atau kadaka yang
dapat mengganggu pertumbuhan tunas baru. Untuk itu satu minggu setelah
pemangkasan dilakukan pekerjaan gosok lumut, pakis dan/atau kadaka secara
manual dengan menggunakan sapu ijuk/sabut kelapa/bekas waring, kait
dan sekaligus bobokor dengan menggunakan parang. Prosentase areal yang
digosok tergantung kondisi lumut/pakis/kadaka, dengan sasaran setelah
pekerjaan gosok selesai dikerjakan seluruh cabang pangkasan harus bersih.
Gosok lumut dapat juga dilakukan
secara kimiawi, misalnya dengan menggunakan Extar 540 EC dosis 1,2 -
2,0 ltr/Ha.
10.3. Perlakuan Cabang/Ranting Pangkasan
Areal pangkasan yang terbuka dengan
tiadanya cabang/ranting pangkasan akan meningkatkan penguapan tanah,
terjadinya erosi, kelembaban tanah menurun dan menghambat aktivitas
penyerapan air dan hara. Untuk itu cabang/ranting dan daun pangkasan
diupayakan untuk tidak ke luar dari areal pangkasan dan dimanfaatkan
untuk menambah bahan organik dan unsur hara tanah.
Perlakuan terhadap cabang/ranting
pangkasan dapat berupa pekerjaan mencacah cabang/ranting pangkasan,
membereskan cabang/ranting pangkasan atau membenam ranting pangkasan.
10.3.1. Mencacah Cabang/Ranting
Pangkasan
Untuk mempercepat proses pelapukan
dan memudahkan pekerjaan pemeliharaan dan pemetikan, cabang/ranting
pangkasan dicacah secara manual sepanjang 15-25 cm atau dengan menggunakan
tenaga mekanik, kemudian disebarkan di antara barisan tanaman. Sistem
ini diharapkan dapat mempertahankan cabang/ranting sisa pangkasan tetap
di kebun dengan tanpa mengganggu pekerjaan pemeliharaan dan pemetikan
serta proses pelapukannya lebih cepat. Fungsi lainnya dari pencacahan
adalah dapat merupakan tempat hidup bagi mikrooragnisma dan predator
yang bermanfaat bagi tanaman.
10.3.2. Membereskan Cabang/Ranting
Pangkasan
Cabang/ranting pangkasan dibereskan
di gawangan selang beberapa baris tanaman (tergantung populasi tanaman
dan banyaknya ranting sisa pangkasan). Sistem ini dilaksanakan pada
blok kebun yang aman terhadap pengambilan sisa pangkasan untuk kebutuhan
kayu bakar masyarakat. Dalam pelaksanaannya perlu dipertimbangkan dampaknya
terhadap kesulitan dalam pemeliharaan tanaman dan pemetikan.
10.3.3. Membenam Ranting Pangkasan
Jika faktor keamanan terhadap pengambilan
ranting sisa pangkasan oleh masyarakat menjadi masalah, maka alternatif
perlakuan pembenaman ranting pangkasan dapat dilakukan. Dengan sistem
pembenaman maka diharapkan ranting sisa pangkasan akan tetap berada
di kebun dan proses pelapukannya akan lebih cepat. Ranting yang dapat
dibenam adalah ranting kecil dengan diameter di bawah 2 cm, sedangkan
cabang yang lebih besar dan daun tidak dibenam.
Caranya: Ranting sisa pangkasan setelah dipotong yang berukuran besarnya,
dibenam dalam rorak di antara barisan tanaman teh. Dalam dan panjang
rorak serta selang berapa baris tanaman tergantung pada berapa banyak
ranting yang akan dibenam. Hindari pembenaman pada sisian dan hiaten/bubulak.
10.4. Pembuatan Rorak
Untuk mencegah erosi serta memperbaiki
kondisi struktur tanah, pada areal pangkasan dengan kemiringan lebih
dari 15% dibuat rorak-rorak dengan sistem zigzag (ngahuntu kala) ukuran
300x30x40 cm dan jarak antar rorak dalam barisan 2 meter. Jarak rorak
antar barisan dan jumlah rorak pe patok adalah sebagai berikut:
Kemiringan
Lahan Jarak Antar Barisan Jumlah Rorak
per patok
16% - 30% Satu setiap 4 baris tanaman 16 buah
> 30% Satu setiap 3 baris tanaman 22 buah
10.5. Penggarpuan
Untuk memulihkan struktur tanah,
aerasi udara dalam tanah, kelembaban tanah dan memperbaiki sistem perakaran
tanaman serta meningkatkan daya jerap air (water holding capacity),
tanah yang selama masa eksploitasi terjadi proses pemadatan memerlukan
perlakuan penggarpuan. Penggarpuan dilaksanakan dengan sistem garpu
rengat pada seluruh bobokor dan gawangan tanaman, kecuali yang telah
ada rorak atau benam cabang.
10.6. Pembuatan Saluran Air
Untuk mengurangi erosi tanah pada
areal dengan kemiringan lebih dari 30% dibuat saluran air kontur dan
vertikal. Ukuran saluran air kontur adalah lebar 30 cm dengan kedalaman
45 cm, dibuat setiap selang 20 meter vertikal. Setiap jarak 10 meter
dibuat tanggul ukuran lebar 30 cm, panjang 50 cm dan tinggi 30 cm pada
dasar saluran air, dengan maksud untuk mengurangi laju air dan meningkatkan
resapan air pada areal pertanaman.
Saluran air vertikal dibuat pada setiap cekungan-cekungan vertikal dengan
ukuran lebar 60-70 cm, dalam 40-50 cm dan setiap jarak 20 dibuat kantong-kantong
air (kalacen) dengan ukuran 80x80x80 cm.
Dengan demikian, kombinasi perlakuan
ranting pangkasan, rorak, penggarpuan dan saluran air berdasarkan kemiringan
lahan dalam pekerjaan paket pangkasan adalah sebagai berikut:
Kemiringan Lahan Perlakuan
Paket Pangkasan
0% - 15% Cacah/Meres/Benam Cabang +
Garpu Rengat
15% - 30% Cacah/Meres/Benam Cabang +
Garpu Rengat + Rorak
> 30% Cacah/Meres/Benam Cabang +
Garpu Rengat + Rorak +
Saluran air
10.7. Penanaman/Pemeliharaan Pohon
Pelindung
Dalam paket pangkasan sekaligus
dilaksanakan pekerjaan pemeliharaan pohon pelindung dan windbreak yang
ada, berupa: penanaman/penyulaman (jika pangkasan dilaksanakan pada
musim basah), penjarangan dan perantingan. Untuk kebutuhan penanaman/penyulaman,
ketinggian bibit pohon pelindung yang digunakan minimal 1 meter dengan
jarak tanam sesuai dengan ketinggian tempat sebagai berikut:
|
Ketinggian
|
Tempat Jarak
Tanam
|
Populasi
(phn/Ha)
|
|
Rendah
Sedang
Tinggi
|
5 x 5
5 x 10
10 x 20
|
400
200
50
|
Jenis pohon pelindung yang dapat
ditanam pada areal pertanaman teh antara lain:
|
Prioritas
|
Nama Latin
|
Nama Daerah
|
Kebun Dataran
Rendah Sedang Tinggi
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
|
Grevilea robusta
Leucaena sp.
Adenanthera macrosperma
Azadirachta indica
Melea azaderacht
Toona sureni
Acacia deccurens
Erythrina sububrans
Acacia mangium
Acacia sp.
Erythrina lithosperma Silver Oak, Salamander
|
Lamtoro, Petai cina
Saga
Nimba
Mindi
Suren
Kayu api, Darhut
Dadap belendung
Mangium
Malakatika
Dadap hayam
|
|
10.8. Pemeliharaan Jalan Kontrol
dan Sisian
Jalan kontrol, jalan ratus/hektaran,
jalan sisi dan sisian juga sekalian dipelihara pada paket pangkasan.
10.9. Pemupukan Organik
Pada areal dengan kandungan bahan
organik rendah (<5%), kesempatan dalam pekerjaan paket pangkasan
digunakan untuk program pemulihan/peningkatan bahan organik tanah dengan
pemberian pupuk organik dengan cara disebar pada lahan yang telah digarpu
atau dibenam pada lahan yang belum digarpu (dengan catatan, kondisi
iklim masih cukup lembab).
Untuk mengetahui kadar bahan organik
dari setiap blok kebun dilihat dari peta kesuburan tanah/kesesuaian
lahan atau berdasarkan hasil pengiriman sampel analisa tanah ke Balai
Penelitian.
Bandung, Mei 2001
Kerjasama
Tri B. Santoso dan suhendar.8m.com
Copyright (c) 2001