KONSERVASI TANAH
DAN AIR
Oleh: Tri B. Santoso
Konservasi tanah dan air adalah
upaya mempertahankan sifat fisik dan kimia tanah dan ketersediaan air
pada tingkat yang dapat menjamin kelangsungan pertumbuhan tanaman yang
optimal.
Dengan pertimbangan bahwa usaha
perkebunan merupakan proses pengurasan hara dalam tanah, maka untuk
memperoleh keuntungan yang berkelanjutan diperlukan pengembalian input
ke tanaman agar terjadi keseimbangan. Apalagi jika melihat topografi
yang curam dan sebaran cuaca/iklim yang ekstrim, tanpa adanya upaya-upaya
konservasi tanah dan air akan menyebabkan merosotnya kesuburan tanah
dalam waktu yang tidak lama.
Untuk itulah dalam rangka mempertahankan
kelangsungan usaha perusahaan dalam jangka panjang, yaitu mendapatkan
output produksi yang tinggi serta berkesinambungan, diperlukan pola
pikir jangka panjang dalam bidang tanaman. Pelaksanaan pekerjaan konservasi
tanah dan air merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki kondisi kesuburan
tanah sehingga tanah mempunyai daya dukung yang baik terhadap tanaman
untuk menghasilkan produksi tinggi. Dengan demikian, kegiatan konservasi
tanah dan air harus menjadi perhatian dan prioritas manajemen.
Upaya-upaya konservasi tanah dan
air meliputi pekerjaan-pekerjaan:
Pencegahan pencucian/kehilangan
hara oleh aliran permukaan
Upaya untuk mencegah pencucian/kehilangan
hara oleh aliran permukaan (run-off) dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan:
" Pembuatan saluran air secara kontur
" Pembuatan rorak
" Penggunaan mulsa
Pencegahan pengeringan permukaan
tanah
Pencegahan pengeringan permukaan
tanah akibat teriknya sinar matahari terutama saat areal masih terbuka
dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan:
" Penanaman pohon pelindung
" Penggunaan mulsa.
Perbaikan aerasi tanah
Upaya untuk perbaikan aerasi tanah
dapat ditempuh melalui kegiatan:
" Penggarpuan
" Pembuatan rorak
Penambahan bahan organik
Penambahan bahan organik dimaksudkan
untuk memperbaiki kondisi struktur tanah dan meningkatkan daya jerap
air (water holding capacity) serta daya sanggah tanah. Pemberian bahan
organik dapat secara langsung dengan memberikan pupuk organik (pupuk
kandang, limbah kompos atau pupuk organik jadi) atau secara tidak langsung
dengan mempertahankan seresah pangkasan tetap di kebun.
Pembuatan kolam-kolam resapan air
Dengan membuat kolam-kolam resapan
air (embung-embung) diharapkan tanaman tidak terlalu menderita apabila
terjadi kemarau. Pembuatan kolam resapan air diutamakan pada daerah
atas di mana di bawahnya terdapat areal pertanaman teh. Kolam resapan
air dapat dibuat di dekat sumber air dan menampung air pada musim hujan
untuk dimanfaatkan pada musim kering, atau dapat juga dibuat di areal
yang tidak ada sumber air sebagai bak resapan air hujan.
Pembuatan hutan koloni
Hutan koloni merupakan salah satu
wujud konservasi air, sehingga dengan adanya hutan koloni sekitar areal
pertanaman teh resapan air akan semakin meningkat dan daya tahan tanaman
terhadap kekeringan akan meningkat.
Kegiatan konservasi tanah dan air secara khusus telah dilaksanakan pada
areal TP.I dalam paket pangkasan, berupa pekerjaan-pekerjaan: perlakuan
cabang/ranting pangkasan, perorakan, penggarpuan, pembuatan saluran
air, penanaman pohon pelindung dan pemupukan organik.
Namun mengingat kestabilan produksi
diharapkan dapat muncul minimal selama satu siklus pangkas, maka kegiatan
konservasi tanah dan air dapat dilaksanakan tidak hanya pada areal TP.I
saja tapi paling tidak selama satu siklus pangkas dapat dikerjakan dua
kali pekerjaan konservasi tanah dan air, yaitu pada awal siklus pangkas
(TP.I) dan pertengahan siklus pangkas (akhir TP.II/awal TP.III).
Kegiatan-kegiatan konservasi tanah
dan air pada areal TP.II/TP.III meliputi:
6.1. Penggarpuan
Untuk memulihkan struktur tanah,
aerasi udara dalam tanah, kelembaban tanah dan memperbaiki sistem perakaran
tanaman serta meningkatkan daya jerap air (water holding capacity),
tanah yang telah mulai gejala pemadatan akibat diinjak pemetik dan karyawan
pemeliharaan memerlukan perlakuan penggarpuan. Penggarpuan dilaksanakan
dengan sistem garpu rengat pada seluruh gawangan dan bobokor tanaman,
kecuali yang telah ada rorak atau benam cabang.
6.2. Perorakan
Untuk mencegah erosi serta memperbaiki
kondisi struktur tanah dengan kemiringan lebih dari 15% dibuat rorak-rorak
dengan sistem zigzag (ngahuntu kala) ukuran 300x30x40 cm dan jarak antar
rorak dalam barisan 2 meter. Jarak rorak antar barisan dan jumlah rorak
pe patok adalah sebagai berikut:
Kemiringan
Lahan Jarak Antar Barisan Jumlah Rorak
per patok
16% - 30% Satu setiap 4 baris tanaman 16 buah
> 30% Satu setiap 3 baris tanaman 22 buah
6.3. Pembuatan Saluran Air
Untuk mengurangi erosi tanah pada
areal dengan kemiringan lebih dari 30% dibuat saluran air kontur dan
vertikal. Ukuran saluran air kontur adalah lebar 30 cm dengan kedalaman
45 cm, dibuat setiap selang 20 meter vertikal. Setiap jarak 10 meter
dibuat tanggul ukuran lebar 30 cm, panjang 50 cm dan tinggi 30 cm pada
dasar saluran air, dengan maksud untuk mengurangi laju air dan meningkatkan
resapan air pada areal pertanaman.
Saluran air vertikal dibuat pada setiap cekungan-cekungan vertikal dengan
ukuran lebar 60-70 cm, dalam 40-50 cm dan setiap jarak 20 dibuat kantong-kantong
air (kalacen) dengan ukuran 80x80x80 cm.
Selain pada areal TP.II/TP.III di atas, pada areal-areal yang memungkinkan
sekitar pertanaman teh dibuat pula kolam-kolam resapan air (embung-embung),
pembuatan hutan koloni dan pemberian mulsa.
6.4. Kolam Resapan Air (embung-embung)
Kolam resapan air dibuat baik di
tempat yang ada sumber airnya maupun tempat yang tidak ada sumber air
sebagai bak resapan air hujan. Kolam yang dibuat di tempat yang ada
sumber airnya, dimaksudkan selain sebagai tempat resapan air juga dapat
dimanfaatkan airnya pada musim kering dengan dialirkan ke daerah pertanaman
teh. Untuk maksud demikian, ukuran kolam tergantung pada pada besarnya
debit air tapi dengan kedalaman minimal 80 cm. Sedangkan bak-bak resapan
air hujan dibuat pada tempat-tempat terbuka (hiaten/bubulak) atau pada
aliran saluran air dengan ukuran 80x80x80 cm. Pembuatan kolam/bak resapan
air dikerjakan pada akhir musim kering agar dapat bermanfaat pada musim
hujan.
6.5. Hutan Koloni
Pembuatan dan pengelolaan hutan
koloni di sekitar areal pertanaman teh selain untuk tujuan konservasi
tanah dan air juga dapat berperan untuk mengurangi pergerakan angin
(windbreak) sehingga dapat mengendalikan temperatur dan kelembaban nisbi
yang optimal bagi pertumbuhan tanaman serta menciptakan keseimbangan
ekosistem di lingkungan kebun.
Pembuatan hutan koloni dilaksanakan
pada lahan-lahan yang relatif kurang produktif untuk tanaman teh, seperti:
jurang, gemblangan/hiaten, mata air, tanah berbatu, tanah sempadan,
dsb. dengan luasan satu lokasi 0,50 Ha dan jarak tanam 2 x 3 meter.
Alternatif jenis pohon yang dapat
digunakan untuk hutan koloni antara lain:
|
No.
|
Nama Latin
|
Nama Daerah
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
|
Albizia sp.
Altingina excelsa
Azadirachta indica
Agathis alba
Maeosopsis manii
Pinus merkusii
Swietenia mahagoni
Toona sureni
Melea azaderacht
|
Jeungjing
Rasamala
Nimba
Damar
Manii / Afrikana
Pinus
Mahoni
Suren
Mindi
|
Pemeliharaan hutan koloni yang utama
adalah penyiangan dan pemupukan. Pada tahun pertama setelah penanaman,
penyiangan dilakukan 4 kali setahun,yaitu sekali setiap triwulan. Pada
tahun kedua penyiangan 2 kali setahun, yaitu satu kali setiap satu semester.
Pemupukan dilaksanakan sesuai dengan rekomendasi Balai.
6.6. Pemberian Mulsa
Untuk mengurangi penguapan tanah
dan memberikan bahan organik pada tanah, pada areal pertanaman teh diupayakan
untuk dapat diberikan mulsa. Sumber mulsa anatar lain dapat berasal
dari hijauan:
" Pemangkasan pohon penutup
tanah (merrygold, guatemala, dsb.)
" Pemangkasan/perantingan pohon pelindung
" Babadan rumput atau gulma daun lebar
Pemberian mulsa diutamakan menjelang
atau pada musim kemarau, dan terutama pada tanaman klonal yang terbuka
atau populasi jarang.
Bandung, Mei 2001
Kerjasama
Tri B. Santoso dan suhendar.8m.com
Copyright (c) 2001