Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Perkebunan Montaya PTP Nusantara VIII (persero)

MENU UTAMA

Kembali ke halaman awal
Selayang pandang Perk Montaya
Usaha usaha Perk Montaya
Program kerja Perk Montaya
Photo sekitar Montaya
 
 
 

KONSERVASI TANAH DAN AIR
Oleh: Tri B. Santoso

Konservasi tanah dan air adalah upaya mempertahankan sifat fisik dan kimia tanah dan ketersediaan air pada tingkat yang dapat menjamin kelangsungan pertumbuhan tanaman yang optimal.

Dengan pertimbangan bahwa usaha perkebunan merupakan proses pengurasan hara dalam tanah, maka untuk memperoleh keuntungan yang berkelanjutan diperlukan pengembalian input ke tanaman agar terjadi keseimbangan. Apalagi jika melihat topografi yang curam dan sebaran cuaca/iklim yang ekstrim, tanpa adanya upaya-upaya konservasi tanah dan air akan menyebabkan merosotnya kesuburan tanah dalam waktu yang tidak lama.

Untuk itulah dalam rangka mempertahankan kelangsungan usaha perusahaan dalam jangka panjang, yaitu mendapatkan output produksi yang tinggi serta berkesinambungan, diperlukan pola pikir jangka panjang dalam bidang tanaman. Pelaksanaan pekerjaan konservasi tanah dan air merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki kondisi kesuburan tanah sehingga tanah mempunyai daya dukung yang baik terhadap tanaman untuk menghasilkan produksi tinggi. Dengan demikian, kegiatan konservasi tanah dan air harus menjadi perhatian dan prioritas manajemen.

Upaya-upaya konservasi tanah dan air meliputi pekerjaan-pekerjaan:

Pencegahan pencucian/kehilangan hara oleh aliran permukaan

Upaya untuk mencegah pencucian/kehilangan hara oleh aliran permukaan (run-off) dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan:
" Pembuatan saluran air secara kontur
" Pembuatan rorak
" Penggunaan mulsa

Pencegahan pengeringan permukaan tanah

Pencegahan pengeringan permukaan tanah akibat teriknya sinar matahari terutama saat areal masih terbuka dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan:
" Penanaman pohon pelindung
" Penggunaan mulsa.

Perbaikan aerasi tanah

Upaya untuk perbaikan aerasi tanah dapat ditempuh melalui kegiatan:
" Penggarpuan
" Pembuatan rorak

Penambahan bahan organik

Penambahan bahan organik dimaksudkan untuk memperbaiki kondisi struktur tanah dan meningkatkan daya jerap air (water holding capacity) serta daya sanggah tanah. Pemberian bahan organik dapat secara langsung dengan memberikan pupuk organik (pupuk kandang, limbah kompos atau pupuk organik jadi) atau secara tidak langsung dengan mempertahankan seresah pangkasan tetap di kebun.

Pembuatan kolam-kolam resapan air

Dengan membuat kolam-kolam resapan air (embung-embung) diharapkan tanaman tidak terlalu menderita apabila terjadi kemarau. Pembuatan kolam resapan air diutamakan pada daerah atas di mana di bawahnya terdapat areal pertanaman teh. Kolam resapan air dapat dibuat di dekat sumber air dan menampung air pada musim hujan untuk dimanfaatkan pada musim kering, atau dapat juga dibuat di areal yang tidak ada sumber air sebagai bak resapan air hujan.

Pembuatan hutan koloni

Hutan koloni merupakan salah satu wujud konservasi air, sehingga dengan adanya hutan koloni sekitar areal pertanaman teh resapan air akan semakin meningkat dan daya tahan tanaman terhadap kekeringan akan meningkat.


Kegiatan konservasi tanah dan air secara khusus telah dilaksanakan pada areal TP.I dalam paket pangkasan, berupa pekerjaan-pekerjaan: perlakuan cabang/ranting pangkasan, perorakan, penggarpuan, pembuatan saluran air, penanaman pohon pelindung dan pemupukan organik.

Namun mengingat kestabilan produksi diharapkan dapat muncul minimal selama satu siklus pangkas, maka kegiatan konservasi tanah dan air dapat dilaksanakan tidak hanya pada areal TP.I saja tapi paling tidak selama satu siklus pangkas dapat dikerjakan dua kali pekerjaan konservasi tanah dan air, yaitu pada awal siklus pangkas (TP.I) dan pertengahan siklus pangkas (akhir TP.II/awal TP.III).

Kegiatan-kegiatan konservasi tanah dan air pada areal TP.II/TP.III meliputi:

6.1. Penggarpuan

Untuk memulihkan struktur tanah, aerasi udara dalam tanah, kelembaban tanah dan memperbaiki sistem perakaran tanaman serta meningkatkan daya jerap air (water holding capacity), tanah yang telah mulai gejala pemadatan akibat diinjak pemetik dan karyawan pemeliharaan memerlukan perlakuan penggarpuan. Penggarpuan dilaksanakan dengan sistem garpu rengat pada seluruh gawangan dan bobokor tanaman, kecuali yang telah ada rorak atau benam cabang.

6.2. Perorakan

Untuk mencegah erosi serta memperbaiki kondisi struktur tanah dengan kemiringan lebih dari 15% dibuat rorak-rorak dengan sistem zigzag (ngahuntu kala) ukuran 300x30x40 cm dan jarak antar rorak dalam barisan 2 meter. Jarak rorak antar barisan dan jumlah rorak pe patok adalah sebagai berikut:


Kemiringan
Lahan Jarak Antar Barisan Jumlah Rorak
per patok
16% - 30% Satu setiap 4 baris tanaman 16 buah
> 30% Satu setiap 3 baris tanaman 22 buah


6.3. Pembuatan Saluran Air

Untuk mengurangi erosi tanah pada areal dengan kemiringan lebih dari 30% dibuat saluran air kontur dan vertikal. Ukuran saluran air kontur adalah lebar 30 cm dengan kedalaman 45 cm, dibuat setiap selang 20 meter vertikal. Setiap jarak 10 meter dibuat tanggul ukuran lebar 30 cm, panjang 50 cm dan tinggi 30 cm pada dasar saluran air, dengan maksud untuk mengurangi laju air dan meningkatkan resapan air pada areal pertanaman.
Saluran air vertikal dibuat pada setiap cekungan-cekungan vertikal dengan ukuran lebar 60-70 cm, dalam 40-50 cm dan setiap jarak 20 dibuat kantong-kantong air (kalacen) dengan ukuran 80x80x80 cm.


Selain pada areal TP.II/TP.III di atas, pada areal-areal yang memungkinkan sekitar pertanaman teh dibuat pula kolam-kolam resapan air (embung-embung), pembuatan hutan koloni dan pemberian mulsa.

6.4. Kolam Resapan Air (embung-embung)

Kolam resapan air dibuat baik di tempat yang ada sumber airnya maupun tempat yang tidak ada sumber air sebagai bak resapan air hujan. Kolam yang dibuat di tempat yang ada sumber airnya, dimaksudkan selain sebagai tempat resapan air juga dapat dimanfaatkan airnya pada musim kering dengan dialirkan ke daerah pertanaman teh. Untuk maksud demikian, ukuran kolam tergantung pada pada besarnya debit air tapi dengan kedalaman minimal 80 cm. Sedangkan bak-bak resapan air hujan dibuat pada tempat-tempat terbuka (hiaten/bubulak) atau pada aliran saluran air dengan ukuran 80x80x80 cm. Pembuatan kolam/bak resapan air dikerjakan pada akhir musim kering agar dapat bermanfaat pada musim hujan.

6.5. Hutan Koloni

Pembuatan dan pengelolaan hutan koloni di sekitar areal pertanaman teh selain untuk tujuan konservasi tanah dan air juga dapat berperan untuk mengurangi pergerakan angin (windbreak) sehingga dapat mengendalikan temperatur dan kelembaban nisbi yang optimal bagi pertumbuhan tanaman serta menciptakan keseimbangan ekosistem di lingkungan kebun.

Pembuatan hutan koloni dilaksanakan pada lahan-lahan yang relatif kurang produktif untuk tanaman teh, seperti: jurang, gemblangan/hiaten, mata air, tanah berbatu, tanah sempadan, dsb. dengan luasan satu lokasi 0,50 Ha dan jarak tanam 2 x 3 meter.

Alternatif jenis pohon yang dapat digunakan untuk hutan koloni antara lain:

No.
Nama Latin
Nama Daerah
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Albizia sp.
Altingina excelsa
Azadirachta indica
Agathis alba
Maeosopsis manii
Pinus merkusii
Swietenia mahagoni
Toona sureni
Melea azaderacht

Jeungjing
Rasamala
Nimba
Damar
Manii / Afrikana
Pinus
Mahoni
Suren
Mindi

Pemeliharaan hutan koloni yang utama adalah penyiangan dan pemupukan. Pada tahun pertama setelah penanaman, penyiangan dilakukan 4 kali setahun,yaitu sekali setiap triwulan. Pada tahun kedua penyiangan 2 kali setahun, yaitu satu kali setiap satu semester. Pemupukan dilaksanakan sesuai dengan rekomendasi Balai.

6.6. Pemberian Mulsa

Untuk mengurangi penguapan tanah dan memberikan bahan organik pada tanah, pada areal pertanaman teh diupayakan untuk dapat diberikan mulsa. Sumber mulsa anatar lain dapat berasal dari hijauan:

" Pemangkasan pohon penutup tanah (merrygold, guatemala, dsb.)
" Pemangkasan/perantingan pohon pelindung
" Babadan rumput atau gulma daun lebar

Pemberian mulsa diutamakan menjelang atau pada musim kemarau, dan terutama pada tanaman klonal yang terbuka atau populasi jarang.


Bandung, Mei 2001

 


Kerjasama Tri B. Santoso dan suhendar.8m.com Copyright (c) 2001