Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Perkebunan Montaya PTP Nusantara VIII (persero)

MENU UTAMA

Kembali ke halaman awal
Selayang pandang Perk Montaya
Usaha usaha Perk Montaya
Program kerja Perk Montaya
Photo sekitar Montaya
 
 
 

KENDALA YANG DIHADAPI
KEBUN MONTAYA PTP NUSANTARA VIII
UNTUK MENJADI
PROFIT CENTRE
Oleh: U. Abdulgopar G. dan Tri B. Santoso

Latar Belakang

Dengan ditunjuknya PTP Nusantara VIII sebagai pilot project GCG (Good Coorporate Governance) oleh Menteri Negara PBUMN maka menuntut semua unsur manajemen berfikir, berperilaku dan bertindak untuk mewujudkan prinsip-prinsip GCG yaitu independency, transparancy, accountability dan disclosure. Sejalan dengan hal tersebut Kebun sebagai unit produksi dan unit usaha juga diharapkan dapat menjadi profit centre.

Sebagai profit centre maka Kebun harus berupaya memberikan kontribusi keuntungan yang tinggi terhadap perusahaan, yang diperoleh dari selisih harga jual terhadap harga pokok dikalikan terhadap jumlah produksi yang tinggi. Harga jual yang tinggi didapatkan melalui upaya meningkatkan mutu produk dan mempertahankannya secara konsisten. Sedangkan untuk menekan harga pokok secara rasional diupayakan melalui efisiensi biaya, gerakan sadar biaya dan penetapan skala prioritas pekerjaan. Produksi yang tinggi selain akan menekan harga pokok juga akan meningkatkan kontribusi keuntungan, yang dapat dicapai melalui upaya-upaya kultur teknis tanaman.

Dengan mengkaji ketiga faktor profit centre di atas (harga jual/mutu produk, harga pokok/biaya produksi dan kuantitas produksi), diharapkan manajemen Kebun dapat menentukan prioritas penanganan permasalahan dalam upaya meningkatkan kontribusi keuntungan terhadap perusahaan. Demikian juga dengan Kebun Montaya sebagai salah satu kebun di bawah PTP Nusantara VIII (Persero) selalu berusaha untuk dapat menjadi profit centre.

Permasalahan
Dari ketiga faktor profit centre di atas, yang menjadi permasalahan utama bagi Kebun Montaya adalah rendahnya produktivitas tanaman teh, bahkan ada tendensi menurun dalam beberapa tahun ke belakang. Produktivitas tanaman yang rendah ini selain akan meningkatkan harga pokok juga menurunkan kontribusi keuntungan terhadap perusahaan. Sedangkan faktor kualitas produk yang akan menentukan harga jual, masalah bagi Kebun Montaya adalah bagaimana mempertahankan konsistensi mutu yang telah cukup baik dicapai. Tulisan berikut akan menguraikan lebih banyak mengenai evaluasi produktivitas tanaman teh Kebun Montaya tahun terakhir (2000) berikut pendekatan aspek kultur teknis dan rencana tindak lanjutnya.

Produksi Kebun Montaya pada tahun 2000 mencapai 2.155.714 kg kering dengan produktivitas tanaman 1.805 kg/ha/tahun. Terhadap target RKAP tahun 2000 angka tersebut hanya mencapai 82.91%, sedangkan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (1999) hanya mencapai 96.0%. Dengan pencapaian produksi dan produktivitas tersebut maka perlu dicari faktor-faktor penyebab dan pemecahan masalahnya.

Untuk memudahkan penelaahan, maka sistematika tulisan disusun sebagai berikut:
· Realisasi produksi dan produktivitas
· Kajian terhadap faktor-faktor produksi
· Rencana tindak lanjut tahun 2001
· Kesimpulan dan saran

Produksi dan Produktivitas
Realisasi produksi dan produktivitas tanaman tahun 2000 masing-masing afdeling Kebun Montaya adalah seperti terlihat pada Tabel 1 berikut:

Sedangkan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, realisasi produksi tahun 2000 terlihat pada Tabel 2 dan grafik Gambar 1. Dari dari data dan grafik tersebut terlihat bahwa realisasi tahun 2000 di bawah dari tahun 1999 (96.0%) dan 1998 (79.4%) tetapi masih di atas dari tahun 1997 (108.0%). Jika dibuat garis tren linier produktivitas tahun 1997-2000, ternyata masih memberikan tren meningkat yang ditunjukkan dengan persamaan linier positif (y= 0.6829x+1906.6), yang berarti terdapat peningkatan kecil dalam produktivitas tanaman dari tahun 1997 hingga 2000 (satu siklus pangkas).

Evaluasi produksi dan produktivitas terhadap masing-masing afdeling menunjukkan bahwa pencapaian target RKAP tahun 2000 afdeling Mt.II dan Mt.III berada di atas rerata kebun, sedangkan afdeling Mt.I dan Mt.IV berada di bawah rerata kebun (Tabel 1). Jika dibandingkan dengan tahun 1999, realisasi tahun 2000 hanya afdeling Mt.II yang di atas tahun lalu (104.5%) sedangkan afdeling lainnya di bawah tahun lalu dengan afdeling Mt.IV terbawah (86.1%) (Tabel 2).

Lebih lanjut jika dibuat persamaan produktivitas dari tahun 1997 hingga 2000, afdeling Mt.II dan Mt.III juga memberikan tren persamaan linier positif yang berarti terdapat peningkatan produktivitas selama satu siklus pangkas terakhir, bahkan afdeling Mt.II menunjukkan tren peningkatan yang tinggi (y=67.725x+1850.4). Sebaliknya untuk afdeling Mt.I dan Mt.IV memberikan tren persamaan yang negatif atau terjadi penurunan produktivitas selama satu siklus pangkas terakhir (Gambar 1).

Untuk itu pengkajian dan perhatian yang lebih terhadap afdeling Mt.I dan Mt.IV akan menjadi prioritas bagi manajemen di masa yang akan datang.


Kajian terhadap Faktor-Faktor Produksi

Melihat hasil pencapaian produksi dan produktivitas Kebun Montaya pada tahun 2000 sebagaimana diuraikan di atas maka berikut dilakukan pengkajian terhadap faktor-faktor produksi yang kemungkinan menjadi penyebab atau pendorong pencapaian produksi.

Kondisi Iklim
Menjadikan kondisi iklim sebagai salah satu faktor ketidaktercapaian produksi seringkali diabaikan atau ditabukan oleh manajemen dengan pertimbangan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang sulit diubah (uncontrollable) dan dialami hampir sama oleh kebun lain. Padahal pengelolaan tanaman teh dalam usaha perkebunan sangat tergantung pada iklim, khususnya dalam hal ini adalah curah hujan dan penyinaran matahari.

Untuk Kebun Montaya di mana jenis tanah umumnya Litosol, struktur tanah cadas berpasir dengan topografi berbukit dan kondisi kesuburan tanahnya sangat minim di mana kandungan C organic rerata di bawah 3% (Laporan Survei Kaji Ulang Kesesuaian Lahan Tanaman Teh, PPTK Gambung, tahun 1999), produksi tanaman teh sangat tergantung sekali pada kondisi curah hujan dan sinar matahari. Tidak adanya turun hujan diikuti dengan cuaca panas terik selama 4-7 hari saja dapat menurunkan produksi hingga 70-80% dari kondisi normal.

Hubungan antara fluktuasi produksi dan curuah hujan selama tiga tahun terakhir (1998-2000) ditunjukkan pada Gambar 2 berikut:

Dari grafik Gambar 2 di atas terlihat bahwa faktor curah hujan sangat berpengaruh terhadap fluktuasi produksi Kebun Montaya. Masalahnya adalah bagaimana mengantisipasi kondisi iklim agar produksi tidak terlalu berfluktuatif. Dari grafik di atas memang terlihat bahwa fluktuasi produksi dipengaruhi oleh curah hujan, tertapi pada tahun 1999-2000 pengaruhnya dapat ditekan melalui beberapa upaya di lapangan yang akan diuraikan kemudian, sehingga garis kedua aspek (produksi dan curah hujan) tidak sejajar sebagaimana tahun sebelumnya.

Pemupukan
Pemupukan tahun 2000 dilaksanakan sesuai dengan rekomendasi dari PPTK Gambung yang merupakan hasil analisa daun dan tanah tahun 1999. Data pemupukan tahun 2000 tercantum dalam Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Realisasi Pemupukan Tahun 2000


Jika aspek pemupukan dievaluasi berdasarkan prosentase N terhadap produksi dan jumlah aplikasi pertahun, selama tiga tahun terakhir (1998-2000), maka realisasi pemupukan Kebun Montaya pada tahun 2000 terlihat lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya yang ditunjukkan dengan prosentase N dari produksi yang lebih tinggi dan jumlah aplikasi yang lebih banyak. Data selengkapnya tercantum pada Tabel 4 dan Gambar 3 berikut.

Tabel 4. Evaluasi Pemupukan Kebun Montaya Tahun 1998-2000


Gambar 3. Grafik Prosentase N dari Produksi Tahun 1998-2000

Efektivitas pemupukan juga dipengaruhi oleh pelaksanaan pemupukan di lapangan. Untuk hal ini telah mengacu pada prosedur pemupukan sebagaimana diatur dalam Pedoman Kultur Teknis Tanaman (SOP), surat edaran Direksi dan surat edaran intern nomor: 12:12:1-189/V/1998 tanggal 12 Mei 1998 perihal Prosedur Pemupukan. Dalam prosedur pemupukan tersebut antara lain mengatur mengenai prosedur pencampuran, pengarungan, pengangkutan, aplikasi di lapangan, pengaturan orang, pengawasan, pembuatan berita acara, dsb. Diakui realisasinya belum sepenuhnya tetapi paling tidak 90% prosedur tersebut dapat dilaksanakan, seperti aplikasi yang dibenam, kecuali pada tanaman klonal dengan populasi rapat pada topografi datar kadangkala disebar.

Dari aspek pemupukan, yang realisasinya tidak mencapai target program adalah pemupukan daun ZnSO4 di mana dari rencana 14.8 kg/ha/thn hanya terealisir 11.5 kg/ha/thn (78%). Tidak selesainya pemupukan daun ini selain karena kondisi iklim yang sering berubah-ubah juga disebabkan jumlah aplikasi yang tinggi (7-8 kali per tahun). Data selengkapnya pada Tabel 5.

Dari data di atas terlihat bahwa afdeling Mt.I dan Mt.II merupakan afdeling yang paling tertinggal dalam aplikasi pemupukan daun.


Serangan Hama dan Penyakit
Serangan hama dan penyakit pada tahun 2000 relatif terkendali dan tidak terjadi adanya ledakan. Jenis-jenis hama dan penyakit yang dikendalikan (berdasarkan urutan intensitas serangan) adalah: Helopeltis sp., Myte, Empoasca sp., ulat gulung dan Blister Blight. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya (1999), pengendalian hama pada tahun 2000 terjadi penurunan sebesar 39% (61% dibanding tahun 1999). Data selengkapnya terlihat pada Tabel 6.

Walaupun pada beberapa blok tertentu yang merupakan kantong serangan hama terjadi intensitas serangan yang lebih sering dan aspek ini dapat menjadi faktor pencapaian target produksi, namun secara umum serangan hampen relatif terkendali. Pengaruh aspek hama terhadap pencapaian target produksi terutama terjadi di afdeling Mt.I yang intensitas serangannya tertinggi. Grafik serangan hama selama kurun waktu tiga tahun terakhir (1998-2000) terlihat pada Gambar 4.
Tabel 6. Pengendalian Hampen Kebun Montaya Tahun 2000
(dibandingkan dengan Tahun 1999)

Pangkasan
Realisasi pangkasan tahun 2000 sesuai dengan program di mana siklus pangkasan yang diterapkan adalah 3 hingga 3,5 tahun. Luas areal yang dipangkas taun 2000 adalah 384.38 Ha atau 32.19% dari areal TM (Tabel 7). Komposisi umur pangkasan pada tahun 2000 pun normal yaitu TP.I 32.26%, TP.II 35.02% dan TP.III/IV 32.73%. Jumlah dan komposisi pangkasan yang normal tersebut merupakan tahun ketiga sejak tahun 1998 dilakukan perbaikan komposisi pangkasan karena tahun-tahun sebelumnya (1995-1997) luas areal pangkasan hanya 24-26% (siklus 4 tahun) padahal elevasi Kebun Montaya berada pada dataran medium dengan ketinggian 900-1200 meter dpl.

Hal yang mungkin mempunyai korelasi dengan pencapaian target produksi adalah upaya perbaikan kualitas pangkasan di mana berdasarkan evaluasi lapangan terhadap blok-blok kebun yang akan dipangkas umumnya luka pangkasan sebelumnya berada pada ketinggian 60-65 cm, sehingga pangkasan dipertahankan pada ketinggian tersebut banyak yang ngabenggul. Untuk itu sebesar lebih kurang 30% dari areal pangkasan dilakukan pangkasan turun benggul dengan ketinggian 45-50 cm yang berdampak memperpanjang masa tidak terpetik sebelum tipping. Selain itu upaya perbaikan kualitas pangkasan dengan pangkasan bersih baru akan terasa hasilnya pada TP.II dan TP.III.


Penyiangan
Kondisi gulma di lapangan pada tahun 2000 relatif terkendali dengan prosentase penyiangan dari areal TM setiap bulannya rerata 54.49% di mana 55% merupakan penyiangan kimia dan sisanya 45% merupakan penyiangan manual. Umur penyiangan rerata adalah 55 hari atau dalam setahun rerata 6.5 kali dilakukan penyiangan. Data selengkapnya relaisasi penyingan pada tahun 2000 tertera pada Tabel 8 berikut.

Pengolahan Tanah
Dengan pertimbangan produktivitas tanaman Kebun Montaya sangat dipengaruhi kondisi lingkungan maka pengolahan tanah pada tahun 2000 dilaksanakan lebih intensif jika dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pekerjaan yang dilaksanakan bersamaan dengan paket pangkasan tersebut meliputi pembenaman ranting pangkasan, penggarpuan dan perorakan kebun pangkasan serta penggarpuan kebun TP.II/III.

Dibanding tahun 1999, pembenaman ranting pangkasan pada tahun 2000 meningkat dari 95% areal pangkasan menjadi 97% areal pangkasan dibenam. Sedangkan penggarpuan dan perorakan tahun 2000 dilaksanakan 100% dari areal pangkasan, sama seperti tahun sebelumnya. Untuk penggarpuan TP.II/III pada tahun 2000 dapat dilaksanakan seluas 362.83 Ha atau 30.4% dari areal TM, meningkat 413% dari tahun 1999 yang hanya dapat mengerjakan 87.83 Ha (7.4% dari areal TM). Data selengkapnya tercantum pada Tabel 9.

Diharapkan upaya-upaya pengolahan tanah pada tahun 2000 walaupun belum menunjukkan hasil dalam produksi yang meningkat tapi dapat menjadi investasi perbaikan kondisi lingkungan pertumbuhan tanaman sehingga pada tahun yang akan datang dapat memberikan kontribusi yang cukup berarti pada peningkatan produktivitas tanaman.

Tabel 9. Realisasi Pengolahan Tanah Kebun Montaya Tahun 2000
(dibandingkan dengan tahun 1999)

Dari tabel di atas terlihat bahwa afdeling Mt.II tidak menyelesaikan pekerjaan benam cabang areal pangkasannya pada tahun 2000 dan baru akan diselesaikan pada awal tahun 2001 demikian juga dengan afdeling Mt.I masih menyisakan sedikit pekerjaan tersebut. Walaupun seluruh afdeling dapat melaksanakan 100% pekerjaan garpu+rorak TP.I, namun untuk pekerjaan garpu TP.II/III afdeling Mt.IV (20.8%) masih di bawah dari jumlah blok kebun yang seharusnya dikerjakan (umur pangkas 20-24 bulan) atau lebih kurang 30% areal TM.

Pemetikan
Norma pemetikan yang diterapkan di Kebun Montaya adalah sebagaimana telah diatur dalam petunjuk teknis pemetikan pemetikan (SOP) yaitu pemetikan imeut dengan memetik seluruh pucuk manjing yang berada di atas bidang petik dan meninggalkan hanya iwung di mana giliran pemetikannya disesuaikan dengan pertumbuhan dan analisa pucuk yang diharapkan. Kekecualiannya adalah pada plot-plot tanaman yang kurang sehat dengan maintenance leaves tipis dilakukan pemetikan k+1 (ngarege) yang terutama dilaksanakan pada musim kering.

Pada awal tahun 2000 dilakukan inventarisir kesehatan tanaman untuk memutuskan blok-blok/plot-plot mana yang memerlukan perbaikan dalam ketebalan maintenance leaves dan terhadap blok/plot tersebut dilakukan pemetikan k+1. Luas areal yang dilakukan perbaikan tersebut lebih kurang 30% dari areal TM dan hasilnya pada blok yang bersangkutan mulai pertengahan tahun terlihat kesehatannya meningkat.

Kapasitas pemetikan rerata pada tahun 2000 adalah 30.6 kg/HK atau 103% dibandingkan dengan tahun 1999 (29.8 kg/HK) (Tabel 10). Sedangkan rasio tenaga kerja pemetik adalah 0.93 HK/Ha atau menurun sebesar 0.01 dibanding tahun 1999. Afdeling yang sangat merasakan penurunan rasio tenaga kerja pemetik adalah Mt.IV di mana rasio pada tahun 2000 menurun 0.10 dibanding tahun sebelumnya atau kehilangan paling tidak 35 orang tenaga pemetik (Tabel 11). Kehilangan/pengurangan ini disebabkan persaingan tenaga kerja dengan penggarapan lahan pangan pada lahan di sekitar perkebunan dan kehutanan.

Tabel 10. Kapasitas Pemetikan Kebun Montaya Tahun 2000
(dibandingkan dengan tahun 1999 dan 1998)


Kapasitas pemetikan yang rendah sebagaimana terlihat pada tabel di atas bukan disebabkan karena ketrampilan karyawan yang kurang tetapi lebih disebabkan oleh populasi tanaman yang rendah yaitu rerata hanya 7500 pohon/ha. Selain itu hal tersebut merupakan konsekuensi dari program perbaikan kualitias pemetikan untuk mencapai target analisa pucuk MS sesuai permintaan pabrik.


Tabel 11. Rasio Tenaga Kerja Pemetik Kebun Montaya Tahun 2000
(dibandingkan dengan tahun 1999 dan 1998)

Salah satu aspek dalam bidang pemetikan yang diduga sangat berpengaruh terhadap pencapaian target produksi pada tahun 2000 adalah upaya meningkatkan kualitas bahan baku pucuk yang dipasok ke pabrik. Dasar pertimbangan upaya ini adalah bahwa berdasarkan hasil penjualan teh terdapat selisih yang cukup tinggi dalam harga jual teh antara produk dari pabrik yang telah menerapkan sistem pemetikan prima dengan pabrik lain yang menerapkan sistem pemetikan biasa.

Sebelum upaya perbaikan kualitas pucuk diterapkan secara intensif, kisaran pencapaian MS harian adalah 66-69% untuk CTC dan 63-65% untuk Orthodoks. Setelah perbaikan diterapkan kisaran MS harian meningkat menjadi 70-72% untuk CTC dan 65-67% untuk Orthodoks. Bahkan bulan terakhir MS CTC dapat mencapai 72-75%. Hasil akhir dari peningkatan kualitas pucuk ini adalah respons pasar yang meningkat terhadap produk teh Kebun Montaya dengan harga jual yang cukup tinggi dan baik pabrik teh CTC Harendong maupun Orthodoks Montaya masuk dalam tiga pabrik terbaik di lingkungan PTP Nusantara VIII.

Konsekuensi dari upaya perbaikan kualitas pucuk tersebut dalam jangka pendek adalah adanya penurunan produksi yang diharapkan tidak terjadi dalam jangka panjang.

Rencana Tindak Lanjut (RTL) Tahun 2001

Dengan melakukan evaluasi dan pengkajian terhadap faktor-faktor produksi sebagaimana telah diuraikan di atas maka dapat dilihat celah-celah kelemahan yang ada untuk dicarikan pemecahan dan jalan keluarnya. Untuk itu rencana tindak lanjut pada tahun 2001 dalam rangka memperbaiki kinerja bidang tanaman khususnya dalam meningkatkan produktivitas, secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut.

Latar Belakang Penyusunan RTL
Latar belakang atau hal yang menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan Rencana Tindak Lanjut Tahun 2001 adalah:

Tren produktivitas tanaman beberapa tahun terakhir relatif tetap, bahkan untuk afdeling Mt.I dan Mt.IV terjadi penurunan.
Faktor iklim, khususnya curah hujan sangat berpengaruh terhadap fluktuasi produksi Kebun Montaya.
Kebijakan dalam hal kualitas bahan baku pucuk yang disesuaikan dengan kebutuhan pabrik pengolahan teh akan terus dilanjutkan dan ditingkatkan.
Proses pemiskinan unsur hara tanah dalam budidaya tanaman harus diikuti oleh upaya pemulihan kesuburan tanah.

Sasaran
Sasaran yang akan dicapai dari penerapan Rencana Tindak Lanjut Tahun 2001 adalah:
§ Mencapai target produksi tahun 2001 yaitu:

§ Jika target produksi di atas sulit dicapai karena alasan uncontrollable, maka sasaran minimal yang harus diupayakan adalah bahwa tren produktivitas masing-masing afdeling harus meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Program Kegiatan
Dengan latar belakang dan sasaran yang ditetapkan di atas maka program kegiatan tahun 2001 mencakup upaya-upaya sebagai berikut:
1. Upaya mengantisipasi perubahan iklim sehingga fluktuasi produksi dapat ditekan.
2. Upaya memperbaiki kondisi kesehatan tanaman dan kesuburan tanah sehingga tanaman mampu mengoptimalkan sumberdaya / input factor yang diberikan.
3. Upaya mempertahankan kualitas pucuk yang telah dicapai sesuai dengan kebutuhan pabrik pengolahan teh
4. Upaya mengoptimalkan pelaksanaan pekerjaan kultur teknis tanaman sesuai dengan pedoman.
5. Upaya meningkatkan aspek pengawasan di seluruh lini dan sektor pekerjaan.

Kultur Teknis Tanaman
Dengan demikian Rencana Tindak Lanjut Tahun 2001 dalam bidang teknis tanaman dapat diuraikan sebagai berikut.

Antisipasi Kondisi Iklim
Pengalaman membuktikan bahwa kondisi iklim global belakangan ini makin sulit untuk diprediksikan, padahal faktor ini khususnya curah hujan sangat berpengaruh terhadap produktivitas tanaman. Masalahnya saat ini adalah bagaimana manajemen dapat melakukan antisipasi terhadap perubahan kondisi iklim tersebut.

Beberapa upaya yang dapat dan akan terus dilakukan manajemen Kebun Montaya adalah antara lain:
§ Pengolahan tanah dengan penggarpuan, perorakan dan pembuatan saluran air kontur, baik pada TP.I maupun TP.II/III. Pekerjaan ini dimaksudkan terutama untuk meningkatkan daya serap air (water holding capacity), memperbaiki struktur tanah dan menekan laju erosi tanah sehingga kesehatan dan daya tahan terhadap kekeringan tanaman meningkat.
§ Program penanaman pohon pelindung yang telah dimulai dari tahun 1999/2000, baik pada areal pertanaman teh, windbreak maupun hutan koloni, akan ditingkatkan lagi pada tahun 2001 dengan memelihara secara intensif tanaman yang telah ditanam di lapangan maupun melakukan penanaman baru.
§ Pemupukan organik pada blok-blok kebun yang kandungan bahan organiknya rendah dengan memberikan pupuk organik bokashi, serasah pangkasan, serasah hijauan maupun pupuk organik siap pakai Bio Organica atau Biocon.

Pemupukan Akar
Pekerjaan pemupukan jika dilaksanakan dengan benar merupakan pekerjaan yang akan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan produksi tanaman. Sebaliknya jika pelaksanaannya tidak tepat, justru akan merugikan tanaman. Bahkan dalam jangka panjang, pemberian pupuk anorganik akan menurunkan kesuburan tanah. Untuk itu beberapa hal yang memerlukan perhatian dalam pelaksanaan pemupukan pada tahun 2001 antara lain:
§ Dosis pemupukan secara umum mengacu pada rekomendasi PPTK Gambung, yang merupakan hasil analisa daun dan tanah tahun 2000. Dalam realisasinya agar dikaji ulang disesuaikan dengan pencapaian produksi dan jadwal pangkasan.
§ Imbangan antar unsur hara juga perlu mendapat perhatian khusus, terutama karena seringnya ketidaktepatan dalam dropping pupuk.
§ Imbangan N/K pada blok pangkasan dibedakan dari blok produktif, yaitu pada blok pangkasan diperbanyak unsur K2O (N/K = 2:3), sedangkan pada blok produktif unsur N yang diperbanyak (N/K = 4:3 hingga 2:1).
§ Prosedur pemupukan dilaksanakan secara konsekuen sebagaimana diatur dalam surat edaran intern nomor 12:12:1-189/V/1998 tanggal 12 Mei 1998 dan nomor 12:12:1-221/V/1998 tanggal 27 Mei 1998.
§ Pengawasan pekerjaan pemupukan ditingkatkan lagi, mulai dari pengadukan/pencampuran, pengangkutan hingga pelaksanaannya di lapangan.

Pemupukan Daun
Realisasi pemupukan daun tahun lalu tidak mencapai target program yang telah ditetapkan. Untuk itu tahun ini perlu diperhatikan beberapa hal berikut:
§ Dosis pemupukan daun ZnSO4 tahun 2001 rerata 14-15 kg/ha/thn dengan jumlah aplikasi 6-8 kali per tahun.
§ Dosis ZnSO4 per aplikasi adalah 2 kg/ha dalam 100 liter air dengan konsentrasi maksimal 25 gr/ltr air (250 gram/10 ltr untuk 3 patok). Ulangan penyemprotan minimal 10 hari.
§ Selain pupuk daun ZnSO4, agar dilaksanakan juga penyemprotan pupuk daun cair (Dharmasri atau Bayfolan) pada blok-blok kebun potensi.
§ Pada awal musim kemarau disemprotkan Urea+KCl dengan konsentrasi masing-masing 1% untuk mengurangi pengaruh kekeringan terhadap daun.
§ Penyemprotan pupuk daun dihentikan pada keadaan cuaca terik atau pada musim hujan dengan curah hujan tinggi.
§ Agar program pemupukan ZnSO4 tahun ini dapat diselesaikan sesuai rencana maka perlu disusun percenanaan yang matang dalam jadwal penyemprotan per aplikasi dengan memperhatikan pangkasan dan kondisi iklim.
§ Seluruh alat semprot mist blower agar dapat dipergunakan setiap hari, kecuali jika dipergunakan untuk pengendalian penyakit blister blight.

Pemupukan Organik
Pada blok-blok kebun dengan kondisi kandungan bahan organiknya rendah tetapi mempunyai potensi produksi yang tinggi, akan dilakukan pemupukan organik dengan menggunakan bahan baik hasil pembuatan sendiri (bokashi) maupun hasil pabrik. Diperkirakan luas areal yang diperlukan pemupukan organik mencakup 25% areal TM atau lebih kurang 300 Ha.

Pangkasan
Sebagaimana yang telah dilaksanakan tahun sebelumnya, perhatian dalam pekerjaan pangkasan adalah kualitas pangkasan dengan prinsip back-to-basic di mana seluruh norma-norma pangkasan dapat dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen, antara lain:
§ Waktu pemangkasan, disesuaikan dengan pertumbuhan produksi dan iklim.
§ Ketinggian pangkasan (pangkasan produksi atau turun benggul).
§ Kebersihan pangkasan (bersih ranting kecil dan sambung dahan).
§ Kerataan luka pangkasan.
§ Sebaran komposisi umur pangkasan.

Paket Pangkasan
Setiap pekerjaan pangkasan agar langsung diikuti dengan pekerjaan paket pangkasan, yang meliputi:
§ Gosok lumut, kadaka dan bobokor.
§ Pembenaman ranting pangkasan.
§ Pembuatan rorak kantong.
§ Penggarpuan dengan garpu rengat.
§ Pembuatan saluran air kontur.
§ Penanaman pohon pelindung (pada musim hujan).
§ Perbaikan jalan-jalan kontrol dan sisian.

Penggarpuan TP.II/III
Untuk mengoptimalkan pemupukan pada areal TP.II dan TP.III serta meningkatkan pertumbuhan pucuk pada areal tersebut, maka seperti telah dimulai tahun lalu pada tahun 2001 diprogramkan pula pekerjaan penggarpuan pada areal TP.II/III. Pelaksanaannya pada blok kebun yang mempunyai umur pangkasan 20-24 bulan dengan sistem garpu rengat. Mengingat kerapatan tanaman, maka faktor pengawasan pekerjaan ini agar ditingkatkan lagi.

Pembuatan Saluran Air Kontur pada Areal Miring
Untuk mengurangi laju erosi pada areal miring serta mengoptimalkan pemupukan pada areal tersebut, pada areal TP.II dengan kemiringan lahan > 30% agar dibuat saluran air kontur dengan ukuran lebar 30 cm,dalam 40 cm dan jarak antar saluran setiap satu patok. Pelaksanaan pekerjaan ini pada musim kering sehingga dapat berfungsi pada musim penghujan.

Pengendalian Hama dan Penyakit
Walaupun kondisi hampen pada tahun 2000 relatif terkendali, tetapi dibanding kondisi sebelum adanya ledakan hama tahun 1999, kondisi tahun 1998 masih lebih terkendali lagi. Untuk itu pada tahun 2001 ini diharapkan dapat lebih ditekan lagi serangan hama dan penyakitnya, sehingga potensi produksi dapat lebih tergali lagi.
Beberapa upaya yang dapat dilaksanakan selain yang telah berjalan antara lain:
§ Meningkatkan peranan sistem peringatan dini (SPD/EWS) dengan mengoptimalkan peranan petugas pengamat hama dan karyawan pemetikan.
§ Memasang rambu-rambu kantong hama dan penyakit untuk meningkatkan kewaspadaan.
§ Meningkatkan ketrampilan karyawan dan pengawas yang terlibat dalam pengendalian hama dan penyakit.
§ Melakukan kalibrasi alat dan bahan secara rutin.
§ melakukan pengecekan alat dan sarana penyemprotan secara rutin.
§ Menggunakan pestisida secara bijaksana dan sesui dengan peruntukannya.

Penyiangan
Dalam rangka mengendalikan kondisi gulma di areal pertanaman teh dilakukan pekerjaan penyiangan baik dengan kimia maupun dengan manual. Luas areal penyiangan setiap bulannya berkisar antara 55% hingga 60% dari areal TM, sehingga umur penyiangan rerata 55 hari. Komposisi penyiangan kimia dan manual adalah 60:40. Penyiangan kimia dilaksanakan dengan dosis 0,80-0,90 liter/ha pada blok kebun di mana gulmanya masih layak untuk disemprot. Sedangkan pada blok kebun yang kondisi gulmanya sudah lewat masa semprot dilakukan penyiangan manual dengan menggunakan parang dan bila perlu cangkul.

Pemetikan
Prioritas penekanan dalam program pemetikan pada tahun 2001 adalah tetap pada kualitas pucuk sesuai dengan kebutuhan pabrik pengolahan teh. Kisaran analisa pucuk MS untuk pabrik CTC adalah 72-75%, sedangkan untuk pabrik orthodoks 65-67%. Untuk itu pemasokan pucuk ke pabrik diatur sebagai berikut:
§ Afdeling Mt.III, seluruh produksinya dikirim ke CTC
§ Afdeling Mt.I, Mt.II dan Mt.IV, produksi dari TP.I (5-18 bulan) dikirim ke CTC, selebihnya dikirim ke orthodoks.

Sistem pemetikannya mengacu pada SOP Pemetikan dengan penyesuaian kondisi lapangan Kebun Montaya, antara lain:
§ Tippingan dilaksanakan sesegera mungkin setelah pertumbuhan pucuk mencukupi untuk tipping dengan ketebalan awal 15 cm dan akhirnya dipertahankan pada 20-25 cm.
§ Ketebalan awal tipping 15 cm dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan pucuk dari batang/cabang bawah sehingga kerapatan tunas dapat cepat dirangsang tumbuh.
§ Pada masa pertumbuhan aktif (musim basah/hujan), dilakukan pemetikan level plucking (imeut) dengan memetik seluruh pucuk manjing yang ada di atas bidang petik dan hanya meningggalkan iwung.
§ Pada masa pertumbuhan dorman (musim kering), dilakukan pemetikan kepel (ngarege - mother leaf plucking) dengan meninggalkan k+1 pada bidang petik.
§ Handling pucuk dijaga dengan baik agar pucuk dapat tetap segar sampai di pabrik.
§ Hal-hal lain sebagaimana diatur dalam SOP Pemetikan dapat dilaksanakan dengan konsekuen.

Untuk mencapai tujuan analisa pucuk sebagaimana diharapkan di satu sisi, sedangkan di sisi lain pendapatan karyawan harus sesuai dengan KKB, maka prinsip reward dan punishment dalam penetapan harga satuan pucuk sebagaimana diberlakukan sampai akhir tahun 2000 akan terus disempurnakan lagi hingga didapat formula yang tepat yang saling menguntungkan bagi pihak perusahaan dan karyawan.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Target produksi tahun 2000 Kebun Montaya hanya mencapai 82,3% dari RKAP dengan produksi kering 2.155.714 kg dan produktivitas 1.805 kg/ha/thn. Ketidaktercapaian target produksi tersebut sebagian ada yang disebabkan oleh faktor-faktor uncontrollable, dan sebagian lagi disebabkan oleh faktor-faktor controllable. Faktor-faktor yang controllable tersebut merupakan celah-celah kelemahan yang harus dicarikan pemecahannya pada tahun 2001 ini.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian produksi pada tahun 2000 secara garis besar terdiri dari:
§ Kondisi iklim, khususnya curah hujan
§ Pemetikan prima dalam rangka meningkatkan kualitas bahan baku pucuk
§ Serangan hama pada beberapa plot kantong hama
§ Pangkasan turun benggul dalam rangka perbaikan norma pangkasan
§ Keterlambatan dalam upaya pemulihan kesuburan tanah

Walaupun target produksi tahun 2000 tidak tercapai namun jika dilihat realisasi produksi selama empat tahun terakhit, masih menunjukkan tren positif yang diharapkan di tahun 2001 dapat ditingkatkan lagi.

Upaya-upaya memperbaiki celah-celah kelemahan tahun lalu dijadikan dasar dalam menyusun rencana tindak lanjut tahun 2001, di mana secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi:
§ Upaya-upaya mengantisipasi pengaruh iklim khususnya curah hujan terhadap fluktuasi produksi.
§ Upaya-upaya pemulihan kesehatan tanaman dan kesuburan tanah.
§ Upaya mempertahankan kualitas bahan baku pucuk sesuai dengan kebutuhan pabrik pengolahan teh.

Dari hasil kajian dan evaluasi terhadap kinerja tanaman tahun 2000 dan rencana tindak lanjut tahun 2001 dapat dijadikan pedoman bagi masing-masing afdeling dalam meningkatkan produktivitas tanaman pad atahun 2001.


Saran
Evaluasi kinerja tanaman Kebun Montaya sebagaimana diuraikan di atas dalam beberapa aspek masih memerlukan pengkajian yang mendalam. Untuk itu saran dan masukan dari pihak-pihak yang berkepentingan dan Bagian terkait sangat diharapkan agar kinerja tanaman Kebun Montaya pada tahun 2001 dan tahun-tahun yang akan datang dapat lebih baik lagi.

Penerapan rencana tindak lanjut tahun 2001 memerlukan perhitungan lebih lanjut dari aspek finansial yang diduga akan memerlukan biaya tanaman yang lebih besar dari tahun lalu. Untuk itu dukungan dari pihak manajemen dan Bagian terkait sangat diharapkan.

Metoda evaluasi seperti diuraikan di atas diharapkan dapat dilaksanakan secara rutin dan berkala (per bulan, triwulan dan semester) serta dilakukan lebih detil lagi di masing-masing affdeling dengan mengevaluasi kasus per kasus dan kondisi per blok kebun.


Penutup

Demikian evaluasi produktivitas tanaman tahun 2000 dan rencana tindak lanjut tahun 2001 sebagai laporan pertanggungjawaban kinerja tanaman Kebun Montaya PTP Nusantara VIII. Mudah-mudahan laporan ini dapat bermanfaat bagi pihak yang memerlukan.


Montaya, Juni 2001


Kerjasama Tri B. Santoso dan suhendar.8m.com Copyright (c) 2001